Connect with us

Ragam

Dampak Covid-19, Robot Mulai Mengambil Peran Manusia

Published

on

BAGIKAN :

DN, Jakarta – Perkembangan teknologi robot semakin mengalami kemajuan di era revolusi industri 4.0. Bahkan perusahaan di negara-negara maju sudah banyak memakai jasa robot, menggantikan tenaga manusia. Selain dianggap efektif, robot bakal menjadi mitra kerja yang baik oleh perusahaan. Disatu sisi, tentu saja kehadiran robot menjadi ancaman bagi buruh/pekerja, kalau perusahaan semakin membutuhkannya.

Kini, ditengah pandemi Covid-19, robot pun telah makin nyata untuk urusan bekerja. Soalnya salah satu protokol kesehatan yang harus dipatuhi manusia dalam mencegah penyebaran virus berbahaya ini harus jaga jarak (social distancing) dalam beraktitifitas. Jadi, mau tidak mau manusia mulai mencari solusi alternatif, yaitu menggunakan fasilitas robot di era new normal.

Salah satunya Jepang. Negara ini melalui perusahaan Mira Robotics telah mengembangkan teknologi robot bernama Ugo yang salah satunya berperan untuk memerangi penyebaran Covid-19. Robot ini didesain supaya bisa dikendalikan dari jarak jauh. Selain itu, tangan robot ini bermanfaat sebagai  menggunakan sinar ultraviolet untuk membunuh virus pada gagang pintu.

Kent Matsui CEO Mira Robotics mengatakan robot Ugo diciptakan untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Terlebih lagi, pihak medis juga belum menemukan vaksinnya, sehingga  robot tersebut bisa berperan menggantikan manusia dalam hubungan kontak langsung antara manusia. Dia juga mengatakan untuk mempelajari fungsi robot Ugo tidak butuh waktu lama.

“Untuk mempelajari dan mengendalikan robot Ugo hanya butuh waktu 30 menit saja. Robot Ugo bisa disewa sekitar harga USD 1.000 atau sekitar Rp 14 jutaan perbulannya. Robot ini bisa dipakai untuk penjaga keamanan, membersihkan toilet dan area lain di gedung perkantoran,” ujarnya.

Robot  Ugo juga mempunyai sepasang lengan robot, hingga dapat disesuaikan tingginya yang terpasang di atas roda. Ia bisa dioperasikan dari jarak jauh melalui koneksi nirkabel dengan laptop dan pengontrol game. Lalu Laser pengukur jarak yang dipasang di pangkalan membantu navigasi. Sementara panel dibagian atas menampilkan mata untuk memberikan penampilan yang lebih ramah.

Baca juga :   Buruh GARTEKS KSBSI Siapkan Kader Perempuan Menjadi Pemimpin

Indonesia juga tak mau kalah. Baru-baru ini PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) bekerja sama dengan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Universitas Airlangga (Unair), Jawa Timur menyumbangkan Robot RAISA (Robot medical Assistant ITS Airlangga) untuk RS Dr Soetomo Surabaya serta RS Saiful Anwar, Malang.

Indra Gunawan, Direktur Protelindo dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu, menyampaikan fungsi robot Raisa mampu menanyakan keluhan pasien. Serta bisa mengambil suhu temperatur pasien Covid-19. Lalu dilengkapi dengan sensor, sehingga bisa berjalan sesuai arah yang ditentukan. Intinya, Raisa sangat efektif membantu pihak medis untuk rumah sakit rujukan Covid-19, tanpa menurunkan kualitas pelayanan.

Sebelumnya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia sudah mengingatkan fenomena ini bisa mengancam masa depan dunia tenaga kerja di Indonesia, kalau tidak diantisipasi sejak dini. Pasalnya, era revolusi industri 4.0 ini, keahlian (skill) tenaga kerja Indonesia masih terbilang rendah.

Berdasarkan data (BKPM), Bahlil menyampaikan akhir 2019 lalu, total investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 809,6 triliun. “Tapi sayangnya, serapan tenaga kerja hanya 1,03 juta orang,” ujarnya, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Nah, kalau perkembangan teknologi revolusi industri 4.0 tidak diantisipasi sejak dini, kedepannya bisa menimbulkan ketimpangan sosial. Terlebih lagi, Bahlil mengatakan mayoritas pekerja di Indonesia dari kalangan perempuan. “ Saya berharap pekerja perempuan harus bisa meningkatkan kemampuan dan ketrampilan kerja supaya tidak tergusur kemajuan teknologi industri 4.0,” pungkasnya.

Ary Joko Sulistyo Ketua Umum DPP Federasi Serikat Buruh Garmen Tekstil dan Sentra Industri Umum (FSB GARTEKS) tak membantah jika kehadiran robot sedang mengancam dunia kerja. Bahkan sebelum terjadi pandemi, jumlah buruh di sektor garmen dan tekstil setiap tahun mengalami penyusutan.

Baca juga :   Presiden: Mas Rekson, Are You Happy?

“Penyebab penurunan angka kerja di sektor garmen dan tekstil ini karena tenaga manusia mulai digantikan teknologi digital, otomatisasi dan robotisasi didalam perusahaan,” ujarnya beberapa waktu lalu ketika diwawancarai di Jakarta Timur.

Jika persoalan ini diabaikan, ia memprediksi kedepannya jumlah buruh di sektor garmen dan tekstil bisa hanya mencapai 20 persen. Sarannya, agar calon angkatan kerja muda harus meningkatkan keahlian kalau ingin masuk dunia kerja. Khususnya dibidang teknologi informasi.

FSB GARTEKS sendiri telah melakukan agenda sosial dialog dengan pengusaha dan pemerintah untuk mengatasinya. Salah satu solusinya, menyarankan pemerintah bergerak cepat mengantisipasi masalah peralihan tenaga kerja manusia ke teknologi robot, melalui program pelatihan (vokasi).

“Beberapa tahun ini pemerintah memang sudah menjalankan program pelatihan (vokasi) sampai ke berbagai daerah melalui Badan Latihan Kerja (BLK). Tapi kalau saya nilai hasilnya masih minus. Belum menunjukan mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) kita,” tegasnya.

Ary beralasan program vokasi yang dijalankan pemerintah tidak maksimal karena pemerintah sejak tidak ada melibatkan serikat buruh/pekerja. Kalau saja perwakilan buruh dilibatkan untuk terlibat perumusan pola pendidikan vokasi sesuai kebutuhan tenaga kerja, pasti ada dampaknya.

“Kami mengingatkan pemerintah tidak boleh lepas tangan ketika teknologi industri 4.0 mulai mengeser peran manusia di perusahaan. Karena fenomena ini pasti akan membawa ketimpangan sosial bagi buruh, kalau tidak ada solusinya. Apalagi dampak Covid-19 menyebabkan 3 juta lebih buruh kehilangan pekerjaanc sekarang ini,” ucap Trisnur.

Intinya, dia mengatakan kehadiran revolusi industri 4.0 bukanlah momok yang menakutkan bagi buruh. Melainkan tantangan dan peluang. FSB GARTEKS sudah melakukan pendidikan dan pelatihan menghadapi dampak dan keuntungan era industri 4.0. “Manusia tidak mungkin bisa menghindari dan apatis terhadap perkembangan zaman.  Agar kita bisa bersaing di dunia kerja ya harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dengan mengambil hal yang positifnya,” tandasnya. (AH)

Baca juga :   Reporter Koran Itu Pekerjaan Terburuk Dan Datangnya Teknologi Generasi Kelima

BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *