Connect with us

Nasional

Taiwan Akan Buka Kembali PMI Dari Indonesia, Tapi Syarat Ditambah

Published

on

BAGIKAN :

DN, Jakarta – Beberapa waktu lalu, pemerintah negara Taiwan menyampaikan keterangan resmi bahwa ada 85 Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah dinyatakan positif Covid-19 yang tiba dari bulan Oktober-November 2020. Dari 85 orang ini, 13 orang dinyatakan pulih, 72 dalam proses perawatan. Lalu, 22 PMI itu sudah diketahui identitasnya dan sisanya masih tahap konfirmasi dari badan otoritas Taiwan yang menangani Covid-19.

Benny Rhamdani Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dalam keterangan pers di Kantor BP2MI, Jakarta Selatan, Rabu (2/12/20). Ia menjelaskan 85 PMI yang dinyatakan positif berasal dari bebeberapa Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Dimana terdapat 14 P3MI terpaksa ditunda pelayanannya oleh negara Taiwan pada 1 Desember, karena terdapat cluster Covid-19.

Akhirnya, otoritas negara Taiwan pun akhirnya memberikan sanksi penghentian sementara (suspend), terhadap penempatan PMI ke Taiwan. Tepatnya selama 2 minggu, terhitung dari tanggal 4-17 Desember 2020. Suspend ini juga tidak otomatis dibuka setelah atau batas pemberlakukan suspen.

“Nantinya perwakilan otoritas Taiwan melalui TETO di Indonesia akan mengkonfirmasikan lebih lanjut mengenai penerimaan tentang pekerja migran yang akan berangkat tersebut pada 17 Desember,” ujarnya.

Lalu, bagi 14 P3MI ini bisa kembali menempatkan pekerja migran kalau sudah mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, BP2MI dan persetujuan dari CDC Taiwan. Selain itu, BP2MI menegaskan akan merekomendasikan kepada Kementerian Ketenagakerjaan agar P3MI yang melanggar protokol kesehatan dan terbukti tidak melakukan tes PCR terhadap PMI untuk dicabut izinnya.

Menyikapi masalah tersebut, pemerintah Taiwan, melalui Menteri Kesehatan Chen Shih-Chung menyampaikan sedang mempertimbangkan pemberian izin masuk bersyarat kepada PMI untuk memenuhi permintaan tenaga kerja di negara tersebut.

Baca juga :   100 Domain PBK Bermasalah Diblokir Bappebti

Sebagai tanggapan atas lonjakan kasus Virus Corona yang diimpor dari negara Asia Tenggara tersebut, Pusat Komando Epidemi Pusat (CECC) Taiwan mengumumkan pada akhir November mereka akan memberlakukan larangan masuk sementara pada semua PMI  antara 4 dan 17 Desember.

“Pejabat CECC akan mengadakan pertemuan dalam beberapa hari ke depan untuk membahas opsi terkait larangan masuknya PMI. Nanti akan diputuskan apakah akan melanjutkan tindakan berdasarkan situasi pandemi di Indonesia setelah jeda dua minggu,”” ucap Chen dalam keterangan pers di Taipei Medical University pada Minggu (13/12/20).

Sementara Zhuang Ren-Xiang juru bicara CECC mengatakan  untuk ke depannya PMI yang masuk ke Taiwan selain membawa hasil test negative, juga harus menunjukkan sertifikat dari laboratorium tersebut dan dilegalisir Teto.

Hal ini dilakukan mengingat banyaknya PMI yang terkonfirmasi Covid-19. Padahal mereka sudah membawa hasil test Covid negatif dengan waktu tiga hari sebelum penerbangan.

Menanggapi keraguan dari pihak luar terkait kualitas laporan hasil test Covid dari Negara Indonesia, TETO akan membantu mencarikan laboratorium yang bersertifikat untuk melakukan test covid, Jelas Zhuang Ren-xiang.

“Saat ini yang ditutup sementara hanya PMI, bukan semua WNI. Apabila nantinya pengiriman PMI sudah dibuka kembali, selain membawa laporan hasil test negatif, harus menyertakan sertifikat dari tempat atau laboratorium tempatnya test yang dilegalisir Teto,” ungkapnya.

Menurutnya, selain adanya hasil negatif palsu atau pemalsuan hasil test sebagaimana dikhawatirkan banyak orang saat ini. Kemungkinan ada alasan lainnya seperti, sedang dalam masa inkubasi penyakit sehingga tidak terdeteksi sebelum boarding, atau merupakan permulaan infeksi, atau sudah terinfeksi sebelum berangkat. Masalah tersebut termasuk dalam fase negatif atau positif dan mungkin tidak selalu positif.

Baca juga :   Pasien Sembuh Dari Covid-19 Menjadi 345.566 Orang

Saiful Mashud Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia  (ASPATAKI) mengatakan,  ASPATAKI siap melaksanakan atas persyaratan tambahan yang akan diberlakukan oleh Taiwan.”Kita akan ikuti, selama ini anggota aspataki tidak ada rekayasa atas hasil PCR/SWAB,” terangnya.

Lanjutnya, PMI akan membawa surat keterangan bebas Covid-19 dan lembar hasil test PCR/ SWAB. Namun untuk legalisir Teto mungkin sulit. Jika 72 jam PMI sampai di Taiwan, mengingat Teto hanya ada di Jakarta dan Surabaya, sementara PMI berada di banyak kota. (Charles/Red)


BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *