Connect with us

Opsi

Jalan Viadolorosa Menuju Pengujian

Published

on

Ilustrasi penyaliban Yesus Kristus
BAGIKAN :

DN – Ajaran Kekristenan menjadikan Golgota sebagai sebuah peristiwa penting dalam keimanan gerejawi. Selalu saja Golgota diindentikan dengan suasana seram, menakutkan, menjijikkan bahkan berkonotasi buruk karena menjadi tempat pemasungan para penjahat.

Yesus yang diimani mendapatkan predikat buruk karena mendapat stigma dari para penguasa struktural yang merasa keberadaan mereka hendak di kudeta Yesus.  Hal ini ditandai dengan pelayanan Yesus yang selalu saja menarik perhatian. Bahkan menyakinkan banyak orang sehingga pertimbangan politisnya, bahwa Yesus menjadi “trendseter” yang bisa menjadi pesaing bahkan bisa menjadi kiblat yang di teladani.

Kehadiran Yesus sejak di Bethlehem sudah membuat Horedes merasa kekuasaannya terancam sehingga dia memerintah agar hadirnya pesaing baru itu hendak dimusnahkan. Namun berjalannya waktu melalui keberadaan Yesus dalam kesehariannya banyak keajaiban yang dibuat oleh Yesus. Sehingga membuat banyak orang di Yerusalem dan kota-kota lain di wilayah Palestina menjadikan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan.

Konsep Mesias muncul dan berkembang dalam Alkitab, Pandangan Mesias dari kalangan Yahudi dan Kristen. Mesias sendiri berasal dari kata Ibrani mashiah yang berarti diurapi. Seseorang yang menjadi Mesias akan diurapi minyak. Seseorang yang diurapi memiliki tugas untuk dilakukan. Bisa dikatakan inilah arti awal dari mashiah atau Mesias. Ia hanyalah seseorang yang diurapi dan melakukan tugas tertentu, tidak ada yang spesial darinya.

Tugas yang dijalankan Mesias akan berdampak pada banyak orang:

* Ketika Mesias itu diurapi, maka ia juga menjadi seorang pemimpin.

* Oleh karenanya beberapa teks dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa setiap orang yang kata Ibrani “mashiah” yang berarti diurapi.

Seseorang yang menjadi Mesias akan diurapi minyak. Seseorang yang diurapi memiliki tugas untuk dilakukan. Tidak dapat dipungkiri kemampuan Yesus yang dianggap Mesias “diurapi” membuat keberpihakan semua pihak yang membutuhkan hadirnya Mesias yang dinantikan yakni membebaskan rakyat yang mengalami ketertindasan. Karena akibat pemerintahan Romawi yang menindas Bangsa Yahudi.

Baca juga :   Silakan Berkuasa

Kehadiran Yesus memberikan cercah harapan yang dinantikan bangsa Yahudi. Sehingga kemudian membuat banyak orang tertarik dan selalu berada di mana Yesus melakukan pelayanannnya. Banyak kepentingan dan tujuan yang terbangun dari pelayanan Yesus yang diterjemahkan oleh umat atau masyarakat Palestina yang selalu ada bersamanya, diantaranya:

*Murid-murid

Bisa saja mereka selalu mendampingi Yesus dengan tujuan bisa turut popular. Sebab nama Yesus bisa di jual kemana-mana untuk mendapatkan keuntungan karena merupakan “orang dekat”, ketika menjadi orang dekat maka biasanya orang sekampung hendak membutuhkan sesuatu seperti mengharapkan keajaiban atas kehidupan mereka (sakit berat atau lumpuh) maka yang mereka hubungi adalah murid-murid.

*Warga/Masyarakat/Umat/Rakyat

Mereka dengan mudah menikmati kebutuhan makan dan minum yang gratis dan cukup, sebagaiman dalam Injil menuliskan soal peristiwa anggur di kana, 5 roti dan 2 ikan untuk 5.000 orang dan tersisa 12 bakul.

Apalagi Ketika Yahudi/Palestina menjadi jajahan Romawi rakyat di tuntut untuk membayar pajak besar (baca juga case Zakeus) tetapi tidak berbalik kembali dalam kehidupan masyarakat, kondisi demikian dapat memberikan kepastian bahwa rakyat dalam kondisi lapar dan haus (miskin).

Realita sosial ini menjadi bagian yang tidak diabaikan oleh Yesus. Namun bukan itu menjadi tujuan kehadirannya. Seleksi Alam bagi teman, sahabat, murid bahkan umat sekalipun dalam mendampingi Yesus dalam misi Ilahi yakni menebus dosa manusia, butuh pengujian panjang yang hakiki. Apakah mengikuti Yesus untuk mendompleng popularitas sesaat agar di kenal, atau bisa mendapatkan panggung untuk bisa dikenal orang, atau sekedar memenuhi kebutuhan hidup?

Fase demi fase akan dilalui melalui seleksi alam, Ketika ada di Getsemani murid-murid sebagai orang dekat, tidak sanggup berdoa bersama-samanya, Simon Petrus adalah senior dan pertama kali di panggil untuk menjadi orang dekat. Bahkan mungkin mendapatkan perlakuan khusus dengan sejumlah fasilitas saja menyangkal Yesus. Yudas pun demikian melakukan pengkhianat hanya karena lebih tertarik akan uang sogokan.

Baca juga :   Bang-Bing-Bung, Pak

Jalan Viadolorosa

Ini sebuah jalan penderitaan untuk mengenal siapa kawan dan siapa lawan. Siapa sobat sejati dan yang tereliminasi karena kepentingan pribadi dan golongannya. Sahabat sejati butuh pengujian, ibarat emas murni butuh pembakaran butuh tantangan dan penderitaan untuk menemukan keasliannya.

Simon Orang Kirene

Kirene adalah nama sebuah kota di daerah Shahhat, Libya, di Afrika Utara, tepat di bawah Yunani. Kirene memang didirikan orang Yunani pada 630SM sebagai settlement dari orang-orang Greek dan merupakan daerah yang subur. Entah bagaimana ceritanya di Kirene ini cukup banyak orang Yahudi. Mungkin beberapa orang Yahudi lari kesini waktu pembuangan ke Babilon.

Simon merupakan identitas nama orang Yahudi sehingga dapat dipastikan bahwa orang pembuangan yang mendapatkan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pengujian bersama Yesus. Dia tidak tercatat sebagai orang dekat atau orang yang selama ini tidak bersama Yesus, tetapi dirinya tidak menolak untuk menjadi sahabat dan teman sejati dengan kerelaan untuk memikul Kayu salib demi meringankan beban Yesus.

Penyamun

Penyamun yang adalah orang jahat karena melakukan tindakan kekerasan sehingga harus menjalani hukuman di Golgota, memperlihatkan keasliannya dengan memilih jalan komunikasi yang baik dua penyamun yang ditulis dalam Injil salah satu yang di sebelah kanan Memilih tidak melakukan kekerasan dengan mengungkapkan nyinyiran terhadap Yesus, tetapi memilih membangun empati bersama dalam keadaan tak berdaya.

Dengan melihat kondisi ini keberpihak Tuhan bukan kepada orang yang memiliki nama besar dan menguasai panggung, atau yang hendak menarik untung untuk kepentingan pribadi. Pilihan Yesus menjadikan sahabat sejati tidak melihat apakah kita orang asing. Atau orang jahat tetapi pilihan menjadikan kawan, sahabat, teman sejati melalui uji kualitas rasa yang mana ditandai dengan nilai solidaritas yang tinggi. (Yoyarib Mau)

Baca juga :   Gila Hormat Itu Sumber Masalah

BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *