Connect with us

Internasional

2 Jurnalis Kembali Ditangkap Militer Myanmar

Published

on

Ilustrasi kebebasan pers
BAGIKAN :

DN, Internasional – Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) dalam keterangan tertulis (22/3/21) mengencam pihak militer Negara Myanmar yang masih mengintimidasi kebebasan pers dan pekerja media. Pasalnya, pada 19 Maret lalu keamanan Myanmar kembali menahan dua wartawan. Pertama Aung Thura reporter BBC Burma dan Htike Aung dari Mizzima News..

Seorang jurnalis melaporkan kepada IFJ, bahwa dua reporter itu  dibawa pergi oleh agen intelijen berpakaian preman ke lokasi yang dirahasiakan dengan mobil identitas palsu dari lokasi luar pengadilan di ibukota, Nay Pyi Taw. Saat itu Aung Thura dan Htike Aung sedang meliput proses hukum terhadap Win Htein, pejabat senior Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang ditahan pihak militer.

Pihak BBC menyampaikan keprihatinan atas penangkapan rekan mereka. Kemudian mendesak militer Myanmar untuk memastikan kondisi keselamatan Aung Thura tidak terancam. Dalam pernyataannya, BBC tidak dapat menghubungi Aung Thura sejak dirinya di culik. Pada 19 Maret, delapan orang lagi terbunuh, sehingga jumlah total warga sipil terbunuh menjadi 234 karena protes terhadap junta militer terus berlanjut di negara itu.

Penahanan jurnalis adalah bagian dari serangkaian serangan lanjutan oleh militer terhadap media. Termasuk ancaman, pemutusan aliran listrik dan internet, intimidasi melalui daftar target yang dipublikasikan. Serta penutupan paksa semua outlet media independen negara tersebut.

BBC News melaporkan, sedikitnya 40 jurnalis telah ditangkap sejak kudeta militer yang terjadi pada 1 Februari 2021 dan 16 orang masih dalam tahanan. Pada 8 Maret, lima perusahaan media besar telah dibatalkan lisensinya. Termasuk Mizzima News, atas perintah militer Myanmar, media ini tidak lagi diizinkan untuk menulis berita. Atau memberikan informasi dengan menggunakan platform media apa pun.

Baca juga :   Konfederasi Serikat Buruh Internasional Serukan Aksi Menolak Kudeta Militer Myanmar

Mengingta banyaknya media independen yang telah ditutup paksa, maka media sosial seperti Facebook menjadi alat kelompok oposisi sebagai alat kampanye perjuangan. Dengan membuat narasi kritis dan menampilkan photo-photo yang membantai masyarakat sipil selama melakukan aksi demo menolak kudeta militer Myanmar.

IFJ menegaskan serangan, ancaman, dan penangkapan jurnalis di seluruh negara Myanmar adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) besar yang membutuhkan perhatian dunia. Dan mendapatkan laporan harian tentang jurnalis yang dipaksa bersembunyi, melarikan diri karena ketakutan setelah junta militer mengejar mereka karena diduga melaporkan berita palsu. (AH)


BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *