Connect with us

Internasional

Masyarakat Adat Berperan Besar Melawan Perubahan Iklim

Published

on

Ilustrasi hutan (Sumber photo: Pixabay)
BAGIKAN :

DN, Internasional – Berdasarkan survei penelitian, masyarakat adat berperan besar menjaga hutan. Bahkan penebangan hutan yang dilakukan pun jauh lebih rendah dibandingkan para perusahaan kayu. Hasil penelitian terbaru ini diterbitkan bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Lembaga Dana untuk Pengembangan Masyarakat Adat Amerika Latin dan Karibia (FILAC).

Kemudian, tata kelola hutan yang dilakukan masyarakat adat menunjukkan wilayah adalah cara yang efisien serta hemat biaya dalam mengurangi emisi karbon. Hal ini berdasarkan tinjauan terhadap lebih dari 300 studi yang diterbitkan dalam dua dekade terakhir.

Laporan baru tersebut menyimpulkan bahwa penduduk asli dan suku di kawasan Amerika Latin dan Karibia adalah penjaga terbaik hutan. Dibanding pemerintah negara mereka yang seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga kawasan hutan.

Julio Berdegué, Perwakilan Regional FAO menyampaikan masyarakat adat berperan besar menjaga wilayah hutan. Mereka berperan penting mengatasi perubahan iklim global. Termasuk mengantisipasi ancaman kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi.

“Masyarakat adat meyakini hutan adalah lumbung pangan. Jadi mereka harus merawat dengan seutuhnya. Termasuk mengandung sekitar sepertiga dari semua karbon terdapat di hutan Amerika Latin dan Karibia. Serta 14 persen dari karbon yang tersimpan di hutan tropis di seluruh dunia,” ucap Julio Berdegué, dalam keterangan tertulis di Santiago, Chili pada Kamis kemarin (25/3/21).

Hal senada juga disampaikan Myrna Cunningham Presiden FILAC. Dia mengatakan masyarakat adat di lembah Amazon memiliki tanah adat hampir setengah (45 persen). Selama ini, mereka berperan penting  menjaga hutan dari eksploitasi penebangan hutan. Hal ini terbukti, luas hutan utuh hanya menurun  seluas 4,9 persen antara tahun 2000 dan 2016 di wilayah adat di kawasan itu. Sementara di wilayah non-adat turun 11,2 persen”.

Baca juga :   Ancaman Meningkat, 300 Jurnalis Perempuan Afganistan Berhenti Bekerja

FAO dan FILAC mendesak kepada pemerintah untuk memberikan perhatian khusus untuk memperkuat peran masyarakat adat dan suku dalam tata kelola hutan. Termasuk mendukung jaminan hak wilayah hutan dan penghargaan kepada masyarakat hukum adat, atas jasa lingkungan yang sudah menjaga kelestarian hutan,” ungkapnya.

Sedikit Mengeluarkan Karbon 

Menurut hasil riset FAO dan FILAC, laju penebangan hutan (deforestasi) di dalam hutan adat 2,8 kali lebih rendah dibanding luar wilayah serupa. Seperti  di Bolivia, 2,5 kali lebih rendah di Brasil dan 2 kali lebih rendah di Kolombia. Wilayah yang dimiliki secara kolektif penduduk asli menghindari antara 42,8 dan 59,7 juta metrik ton (MtC) emisi CO2 setiap tahun di tiga negara ini; emisi gabungan ini setara dengan mengeluarkan antara 9 dan 12,6 juta kendaraan dari sirkulasi selama satu tahun.

Dari 404 juta hektar yang ditempati oleh masyarakat adat. Pemerintah telah secara resmi mengakui kepemilikan kolektif atau hak guna atas sekitar 269 juta hektar. Meskipun dampak dari jaminan keamanan tenurial sangat besar, biayanya sangat rendah: hanya dibutuhkan $ 6 dolar untuk mendapatkan hak atas satu hektar tanah di Kolombia, dan $ 45 dolar di Bolivia.

Artinya biaya untuk mengamankan tanah adat adalah 5 hingga 42 kali lebih rendah daripada biaya rata-rata untuk menghindari CO2 melalui penangkapan dan penyimpanan karbon fosil untuk pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas.

Melawan Perubahan Iklim

Masyarakat Adat dan suku terlibat dalam tata kelola komunal antara 320 dan 380 juta hektar hutan di wilayah tersebut. Dimana menyimpan sekitar 34.000 juta metrik ton karbon, lebih banyak dari semua hutan di Indonesia atau di Republik Demokratik Kongo.

Sementara wilayah adat Amazon Basin kehilangan kurang dari 0,3 persen karbon di hutan mereka antara tahun 2003 dan 2016. Kawasan lindung non-adat kehilangan 0,6 persen dan daerah yang bukan merupakan wilayah adat atau kawasan lindung kehilangan 3,6 persen. Meskipun wilayah adat mencakup 28 persen dari Lembah Amazon, mereka hanya menghasilkan 2,6 26 persen dari emisi karbon bruto kawasan itu.

Baca juga :   Jaringan Organisasi HAM Internasional Mengutuk Kudeta Militer Myanmar

Temuan laporan riset ini menyimpulkan, bahwa masyarakat adat dan suku berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati. Dimana wilayah adat Brasil memiliki lebih banyak spesies mamalia, burung, reptil, dan amfibi daripada di semua kawasan lindung negara di luar wilayah ini. Sementara di Bolivia dua pertiga spesies vertebrata negara itu dan 60 persen spesies tumbuhan dapat ditemukan di wilayah adat Tacana dan Leco de Apolo. (AH)


BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *