Connect with us

Opsi

Serius, Pilpres 2024 Jokowi-Prabowo?

Published

on

Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Photo: Sumber Facebook Prabowo Subianto
BAGIKAN :

DN, Opsi-Pasti ini sekadar main-main, bercanda, kelakar, guyonan. Boleh jadi, menyebut Jokowi-Prabowo capres-cawapres 2024 kerjaan orang-orang iseng belaka.

Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra yang kini menjabat Menteri Pertahanan, sih boleh-boleh saja menjadi calon wakil presiden 2024, juga (bahkan) masih boleh jika tetap ingin menjadi calon presiden.  Tentu saja hal itu, pada akhirnya, tergantung partai politik jua.  Joko Widodo yang sudah dua kali terpilih menjadi  presiden, Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, tentu tidak boleh menjadi calon presiden 2024. Oleh karena itu, pastilah juga takkan ada partai politik yang mencalonkan Jokowi lagi.

Ada seorang pengamat yang terang-terangan menjagokan pasangan Jokowi-Prabowo untuk Pilpres 2024. Menurut pengamat yang satu ini, tidak ada partai politik yang ingin menjagokan orang yang pasti kalah dalam pemilihan presiden.  Dan Jokowi-Prabowo yang paling berpeluang menang dalam Pilpres 2024.

Memang iya. Tentang hal itu, kita sependapat. Kita setuju tanpa ‘tapi’.

Kita lupakan saja soal kemungkinan tiadanya lawan, jika Jokowi  berpasangan dengan Prabowo pada pemilihan presiden tiga tahun mendatang. Akan tetapi, bahwa Jokowi sudah dua periode menjadi presdien, tentu tidak boleh dilupakan. Jangan pula mencari dalih guna membenarkan pencalonan Jokowi kembali pada Pilpres 2024. Catat: Jokowi pun sudah menegaskan (dengan sangan jelas) bahwa dirinya sama sekali tidak berniat dan berminat menjadi presiden tiga periode.

Sekarang saja pun tidak sedikit yang merasa tidak puas atas kepemimpinan Jokowi. Bahwa yang lebih mengemuka adalah mereka yang merasa puas, tentu saja kita sama-sama maklum adanya. Rasanya, tidak perlulah kita melibatkan diri dalam perdebatan semacam itu.

Dulu, pada masa Orde Baru, Soeharto bersedia dipilih menjadi presiden untuk ketiga, keempat, kelima, hingga keenam kali. Saat itu, suara yang paling kencang terdengar adalah suara mereka yang mendukung kepemimpinan Soeharto, terutama suara orang-orang di lingkaran terdekatnya. Merekalah yang ikut menikmati kekuasaan absolut Soeharto. Korupsi, kolusi, nepotisme alias KKN tumbuh subur.

Baca juga :   Ya Sudahlah …

Para pejuang reformasi 1998 bukan hanya bersemangat menyapu KKN di negeri ini, mereka juga bertekad menciptakan pemerintahan yang demokratis. Dan salah satu hasil dari tekad menciptakan pemerintahan yang demokratis itu adalah soal pembatasan masa  jabatan presiden. Tidak ada yang keberatan tentang hal itu, bahkan hingga saat ini.

Hendaknya disadari benar bahwa menambah masa jabatan presiden Indonesia dari dua periode menjadi tiga periode merupakan keinginan orang-orang tertentu, yakni mereka yang selama ini sudah merasa nyaman (baca: makmur) ikut menikmati kekuasaan Jokowi. Dapat dipahami jika mereka  menginginkan Jokowi menjadi presiden terus.

Menganggap tidak ada orang lain yang dapat menjadi presiden Indonesia berikutnya adalah bentuk sikap kekanak-kanakan, mengada-ada (lebay). Boleh jadi, itu semata-mata merupakan bagian dari suatu upaya ‘dalam rangka’. Mustahil tidak ada. (Usman Gumanti)


BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *