Connect with us

Opsi

Setiap Bulan Puasa, Harga Pangan Naik

Published

on

Dian Novita Susanto, Ketua Umum Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Photo: Ist
BAGIKAN :

DN, Opsi – Tiap kali ramdhan dan lebaran datang, saat itu pula riak-riak pangan menyeruak. Mulai dari cukup-tidaknya ketersediaan pangan sampai harga pangan yang selalu naik berkali-kali lipat. Seolah menjadi hajatan tahunan. Media cetak dan online lalu ramai-ramai memberitakannya bahkan jadi headline. Minyak goreng, gula pasir, telur, daging sapi, daging ayam, terigu, bawang merah, bawang putih adalah sejumlah bahan pangan yang selalu naik.

Di hari kedua puasa pergerakan harga bahan pokok mulai naik seperti gula, terigu, bawang dan ayam ras. Berdasarkan data resmi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), Rabu (13/4/2021), rata-rata harga komoditas pangan masih tinggi dibanding pekan lalu, meski ada juga yang mengalami penurunan. Secara nasional harga gula per kilogram pada Rabu (14/4/2021) mengalami kenaikan 0,76 persen sebesar Rp 13.200 per kilogram dibandingkan harga pekan lalu Rp 13.100 per kilogram. Harga tepung terigu di Jawa Tengah yang mengalami kenaikan 1,11 persen di level Rp 9.100 per kilogram dibanding pekan lalu Rp 9.000 per kilogram.

Secara nasional harga ayam ras juga naik 6,03 persen sebesar Rp 36.900 per kilogram dibandingkan pekan lalu Rp 34.800 per kilogram. Di DKI Jakarta harga ayam ras mengalami kenaikan 4,8 persen dari Rp 31.200 per kilogram menjadi Rp 32.700 per kilogram. Di Sumatera Utara harga bawang justru mengalami kenaikan, bawang merah naik 2,51 persen di harga Rp 32.700 per kilogram, pekan lalu Rp 31.900 per kilogram. Sementara untuk bawang putih hari ini harganya Rp 28.800 per kilogram atau turun 6,2 persen dibanding minggu lalu Rp 27.100 per kilogram. (https://money.kompas.com/read/2021/04/14/121606326/hari-kedua-puasa-berikut-harga-gula-terigu-bawang-dan-ayam-ras?page=all)

Disaat rakyat akan merayakan ibadah dan kemenangan, harusnya urusan pangan tersedia dengan harga yang terjangkau, bagi masyarakat dengan pendapatan pas-pasan apalagi ditengah pandemi ini sangat memberatkan. Fakta berkata lain, tiap bulan suci dan lebaran jeritan ketidakberdayaan, bagai pusat melodrama yang selalu tersuguhkan. Setiap kali itu pula jalan keluar yang diambil pemerintah hanya melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga pangan. Menghimbau kepada lembaga terkait seperti kemendag, kementan, pemda untuk berkoordinasi mengawasi lalulintas pangan dipasaran.

Baca juga :   Dua Tahun Lebih Pak ET Menepi

Tambal sulam adalah kata yang tepat untuk menjelaskan cara negara mengatasi hal demikian, mengapa? Sebab tiap tahun selalu terulang, tak menyelesaikan masalah. Sepertinya kita diajak untuk menjadikannya agenda tahunan sebagai bagian dari ibadah “berhala” pada pasar, disaat seharusnya rakyat fokus beribadah. Soal apakah yang menjadi sebab harga-harga selalu meroket pada bulan mulia tersebut, pemerintah selalu menjawab (tentatif) tidak seimbangnya antara produksi dan permintaan? Ini menjadi pertanyaan tentunya.

Sebab tatkala produksi melimpah, dibeberapa tempat justru harga tetap mahal, terlebih jika itu produksi yang kurang harga melambung tinggi, tak terkendali. Ataukah masih berkeliarannya para cukong/tengkulak/oknum pemerintah yang selalu menjadikan bulan suci tersebut sebagai ladang keuntungan. Menimbun sebanyak mungkin lalu menjualnya dengan harga tak manusiawi. Dan diperparah lagi dengan lemahnya kontrol pemerintah, lembaga pengawasan terkait tidak efektif bekerja, makin memperparah kondisi dilapangan. Tak adakah langkah preventif jauh hari untuk memotong rantai kecurangan perdagangan ini? seriuskah pemerintah melindungi masyarakat–wong cilik, ditengah tuntutan ekonomi yang semakin tinggi?

Pelru diingat dan diingat lagi, pangan adalah kebutuhan dasar, mau tak mau meski harga tinggi, rakyat tetap membelinya, meski dalam lubuk hatinya kadang berbisik, mengapa demikian? lagi dan lagi rakyat kecil hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri dan terkadang mengadu pada sang khalik. Kapan semua ini akan berakhir, bulan suci dan lebaran yang mana saya akan merdeka.

Penulis, Dian Novita Susanto, Ketua Umum Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)


BAGIKAN :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *